Tampilkan postingan dengan label Semiotika Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semiotika Fotografi. Tampilkan semua postingan

20/01/09

Kenangan (lari dr Kematian) & Harapan (impian utk Keabadian) (FOTO)


Untuk foto ini (dua sejoli sedang mengabadikan kemesraan mereka d sebuah kawah indah di Ciwide), saya ingin mencoba utk berbincang dlm perbincangan sebuah mitos keseharian dlm setiap pertanyaan yg muncul di setiap diri manusia ktk mengabadikan moment2 pribadi yg berhrga mnrt mereka..

Dlm foto ini, mitos disni dimengerti sbg sebuah pemaknaan subjektif ats tindakan mereka ktk mengabadikan sbh moment dlm menjwab pertanyaan2 keseharian akan diri mereka sendiri. saya sebagai pihak diluar dr mereka, mencoba memberikan interpretasi pemaknaan dlm sistem pertama yaitu tanda denotatif (sprt yg di bicarakn dlm sistem pemaknaan Roland barthes), setelah moment ini terabadikan maka saya secara bersamaan berada pada konotatif sign, dimana wacana sbh "mitos" itu terlahir dlm pemaknaan ini. Bagi saya foto ini memiliki pesan sbh mitos keseharian hidup. ketika mereka mengabadikan moment yg berharga ini, pd saat itu mereka membangun sebuah mitos ttg kenangan (takut akan kematian) juga sekaligus ttg harapan (keabadian moment2). Dua dlm kesatuan waktu yg bersamaan antara kenangan sekaligus jg harapan (dua sisi mata uang dlm lempengan koin yg bersamaan). Ya.. kemarin adalah "kenangan" hari ini dan esok hari adalah "harapan" di hari ini

"Kenangan", ya.. mereka sadar bhw hari (moment) trsbt akan mjd kenangan di hari esok, dlm pemaknaan lain, bhw mereka sebenarnya jg takut akan "kematian". kematian dr sebuah ingatan akan moment2 indah yg pernah mereka lakukan berdua. mereka tdk ingin hal indah itu hilang begitu saja tanpa ada ingatan yg disimpan di saat2 yg akan datang. Kemudian disaat waktu yg bersamaan pula bahwa mereka pun membangun mitos akan sebuah "harapan" yg tdk lain adalah keinginan akan "keabadian" dr moment indah trsbt, dimana apabila dikemudian hari (waktu akan datang), mereka berdua atau salah satu dr mereka berpisah atu masih tetap bersama, setelah melihat foto trsbt dpt ber-"harap" kembali mengenang jelas kenangan indah masa lalu tersebut dan sekaligus ber-imajinasi memutar kembali waktu yang telah lampau itu agar dpt berada kembali pada moment2 indah tersebut (dgn melihat kembali foto trsbt!), inilah yg saya mksd dgn "keabadian". inilah bagi saya pesan yg tersimpan dlm sebuah foto yg memberikan kpd manusia dlm memberikan jawaban2 akan keseharian mereka.

Disini pula mitos terlihat memiliki sebuah definisi baru sprt yg dikatakan Urban : bhw mitos adalah "cara utama yg unik untuk memahami realitas". jg Horkheimer bhw "Pd hakikatnya usaha manusia rasional adalh mitos, sbb usaha mnusia rasional tdk dpt berdiri sendiri, tdk otonom, tdk dpt mengenal dirinya sendiri: usaha manusia rasional itu terjd, ada n mengenal dirinya hanya berkat dan di dlm mitos. dgn kata lain, usaha manusia rasional itu niscaya atau tdk dpt tidak adalah mitos itu sendiri". dan hubungannya dgn fotografi adalah bhw foto sbg medium dlm dunia fotografi, adalah menjadi alat berkembang, pendukung dan ber-semayamny mitos keseharian manusia. Entah mitos mjd sebuah sikap manusia dlm "pelarian dr kenyataan" dan mencari "persembunyian dlm dunia khayal" mereka. yg pasti itulah mitos sbg alat manusia rasional dlm memberikan jawabn dr setiap pertanyaan dlm keseharian mereka.

13/01/09

Membincang mitos dan simbol

mitos dan simbol, dua konsep yg menurut saya asyik untuk diperbincangkan.. alih-alih menutup kekosongan renung dlm kotak kosong ini. mitos dan simbol adalah dua hal yang selalu hadir dalam keseharian manusia. bahkan kalau bisa dibilang, sampai saat ini pun dengan masyarakat yg serba digital mitos tetaplah menjadi momok yang mana manusia tidak bisa hindari bahkan berlari, ia masih berpengaruh dalam mengarahkan gambaran budaya masyarakat itu sendiri.
fenomena inilah yang menurut saya, masih pantas untuk diperbincangkan.
sedangkan simbol, ia jelas sesuatu yang ada entah kapan ia muncul adanya, yang pasti ketika manusia (adam) tercipta, ia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan sebagai pembentuk baik dalam pola hubungan dan komunikasi keseharian antar manusia juga mansuia dengan hal yang diluar dirinya (Tuhan), maupun isi-isi dalam mitos itu sendiri yang dibuat untuk tujuan sesuatu.

menurut Paul Ricoeur, mitos mempunyai tiga fungsi, yaitu :
1. mitos menyediakan suatu univer salitas konkret bagi pengalaman manusia tentang keseharian.
2. dengan cerita tentang awal mula dan kesudahan kehidupan itu, mitos membawa suatu orientasi dan ketegangan dramatis dalam keseharian manusia.
3.dalam bentuk cerita mitos menjelaskan peralihan gerak dari keadaan satu ke keadaan yang lain, baik dalam bentuk ancaman maupun penghargaan

dari kedua konsep ini, dapat ditarik bahwa keduanya tidak lain adalah bahasa itu sendiri. dengan bahasalah terwujud pengungkapan gagasan, emosi, kesusastraan, filsafat dan sebagainya semuanya melalui bahasa, salah satunya adalah bahasa mitos dalam keseharian manusia. disinilah manusia bergelut dalam kesehariannya dengan mitos yang ada turun temurun dengan membawa segudang simbol-simbol yang harus diinterpretasikan agar makna-makna yang terselubung tersebut dapat "terbongkar" sehingga terbuka dari lipatan-lipatan makna didalamnya sehingga tujuan itu dapatlah dicerna dalam keseharian manusia yang lebih baik.

menurut Ricouer fakta atau produk itu dibaca sebagai suatu naskah. pemahaman itu terjadi, jikalau misalnya ada pemahaman mengenai:a. Bahasa bukan sekedar sebagai bunyi-bunyian, tetapi sebagai alat komunikasib. Tarian tidak hanya sebagai gerak yang bersifat biotik, tetapi sebagai bagian dalam upacara ritual yang berbicara.c. Kurban tidak hanya sebagai pembakaran benda, atau penyembelihan binatang, tetapi juga sebagai tanda penyerahan dan pengabdian. (Bekker, MetLit Filsafat, 1998, 42)

bagi Recoeur disinilah bahasa menjadi penting, karena pengungkapan gagasan dan emosi yang ada didalam mitos-mitos keseharian tersebut dengan segudang simbol yang menyelimutinya. Ia berpendapat bahwa manusia adalah bahasa dan bahasa merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. (Sumaryono,Hermeneutika sbh metode filsft. 1999, 107-108)

manusia baik sebagai objek maupun subjek dari bahasa itu sendiri, maka dalam pengungkapan makna didalmnya ia harus berani mengambil jarak dari mitos yang berkembang dihadapannya (berlaku objektif dari pengalaman-pengalamannya) dan disisi lain ia pun harus masuk dalam upaya rekontekstualisasi atas mitos-mitos tersebut. sehingga mitos bukan lagi cerita fiktif nenek moyang yang turun temurun dalam keseharian kita, tapi bagaimana mitos dengan segala simbol yang dibawanya memberikan efek positif dalam keseharian manusia yang lebih bermakna. dan juga bagaimana pengoptimalan simbol-simbol dalam keseharian kita, sehingga makna tetaplah terjaga dengan tujuannya.


Tuhan saja berbicara dengan simbol-simbolNya
manusia adalah simbol Pancaran-Nya
jibril tercipta karena simbol-simbolNya
agar Muhammad dapat membaca


-- Kotak Kosong . Siang kantor El_Rydhoe --

10/01/09

Kenangan Sindangbarang


saat dimana kalian jauh dr pandangan
dgn langkah gontai, keluar dr kelelahan
dlm kotak sepi ini, sendiri aku; kembali..!


Kembali diselimuti sunyi
sunyi dari sembunyi angin senyum
sunyi dari gemercik riuh jemari ingin
ayat-ayat saljuku tersadar dlm kenangan
ya..kalimat yg kau tulis sebelum menghilang
sungguh-sungguh getarkan ingatan


“tuk sekedar jadi kenangan,,”
bagiku ini banyak tanda darinya
ada universal sign atw personal sign
yang pasti itulah masa lalu yg t'lh terlalui
ia hanya jd kenangan di hari ini
tapi aku tak mau itu terjadi.. hhh


begitu jg pd ayat-ayat saljuku..
tak tahan ingin gambarkan rasa itu
dipojok saung kami lepas lelah dipeluk alam
seruling bambu nan merdu
ditiup oleh bapa yg sangat mengerti dgn masa lalu
sungguh luluhkan ketegangan dlm ilir2 bambu


genderang gamelan khas sunda
bakar imajinasi kami untuk bersua
ya..bersua dgn gunung dan sawah
dalam balutan awan biru yang merona


kala malampun tiada kalah
berikan yg indah untuk tetamu kota
sahutan jangkrik tiada berhenti
menyisipi malam sunyi yg penuh misteri
angin malam lambaikan bulan
temani kami kala pandang bintang
huh..tiada terkira cahaya malam
terangi saung kala duduk berbincang


ku lihat canda ceria anak2 desa
tiada payah apa yg mereka pikir
jauh dr kerumitan bisingnya kota
dan dilain pandangan, aku tersenyum
senyum balas utk tarian elok
dari para gereleis berlatih bersama


sebatang rokok yg ku ambil didlm tas kamera
hilangkan penat setelah merekam citra
saat itu, sebelumnya;
dalam perjalanan jauh, kalahkan bebatuan tundukkan ketinggian
kami bersama abah dan para tetuah
sadayana lakukan zarah kemakam baheula
puncak gunung salak, perhentian kamera
untuk abadikan adat lama..


sungguh mistis rasa disukma
iringi kami dalam berdo'a
tanamkan ilmu pada yang muda
satu hal yang aku ingat..
satu kalimat dr mulut org yg bijak
kata abah:
te aya' kakolot, te aya' sararea,
Aya' ayeuna sangkan zami baheula
zarah ke makam kakolot, anggo ajaran nu an-ngora'


serentaunan, adalah rasa syukur urang sunda,
pada Tuhan Yang Maha Kuasa
atas limpahan karunia, dari hijaunya padi mereka
banyak citra indah kami buat
dibalik jeli mata dlm jepretan kamera
syukur kami juga pada Yang Kuasa
dalam ciptaan-Nya, gunung, awan, sungai dan ceria desa


indah nian kenangan semalam
sampai saat ini pun blm terbuang
hingga terbayang dilubuk hati yg terdalam
sindangbarang, desa kenangan
salam kami pada bulan dan bintang
sapa kami, pd hijau padi
rindu kami, ketika mandi di kali
ingin kami, untuk kembali
terima kasih untuk Sang Pemberi..


05-07 jan 09..aku dan sahabat KALACITRA

El_Rydhoe